MANUSIA [bukan] PECUNDANG

“ Beranikah kau berenang disamudera ini meskipun kau tahu tidak ada pulau untuk berlabuh“ (Nietzsche)

Ketika manusia dilahirkan dari rahim sang ibu, keras suara tangis membahana memecah ruang semesta.  Tangisan itu adalah teriakan eksistensi, keras suaranya mengumandangkan bahwa sang bayi lahir dengan membawa kehidupan. Orang-orang yang berkesempatan untuk menyaksikan tersenyum bahagia. Akan berbeda jika sang bayi lahir tanpa suara tangis, mereka tertunduk dan berperang melawan kesedihan. Sebab jika sang bayi lahir tanpa suara tangis pertanda  kematian telah merenggutnya. Keras suara tangis bayi akan terus membahana tatkala  dia merasakan ketidakpuasan. Mengikuti gerak ritme sang waktu, sang bayi berevolusi, tumbuh dan berkembang menjadi yang disebut kebanyakan manusia sebagai anak-anak. Diapun berceloteh riang, didorong oleh rasa ingin tahu tentang segala hal sebagai perwujudan eksistensinya, dia bertanya dan terus bertanya serta mempertanyakan tentang apapun.

Gerak evolusi tubuh dan perkembangan psikisnya terus membawanya pada lorong gelap yang tak mampu bagi dirinya untuk mengintip setitik cahaya kebenaran. Kemapanan otoritas telah menjadi penjara tanpa jeruji. Sebagai manusia yang sedang tumbuh berkembang tidak lagi bisa memiliki tubuhnya sendiri dengan utuh. Secara perlahan tubuh mulai dikuasai, dipenjara dengan mekanisme yang berjalan diatas otoritas yang mapan. Dengan alasan keteraturan dan keselarasan “tubuh sosial” ,  manusia tidak lagi bisa bersuara tentang tubuhnya sendiri. Manusia dibungkam dengan mesin displin  yang beoperasi untuk melanggengkan kuasa otoritas yang mapan (Focault). Haknya sebagai Homo sapien dipenjara dalam sel (sistem) pengetahuan. Awal kematian eksistensi manusia.

Sistem pengetahuan itu berupa apa saja yang meiliki hak otoritas untuk menentukan apa yang boleh dan tidak boleh, benar dan salah serta baik dan buruk. Manusia tidak diperkenankan untuk mempertanyakan kemapanan dengan dalih akan merusak tatanan. Manusia harus menerimanya secara taken for granted bahwa kemapanan yang beoperasi dengan mekanisme keselarasan dan keteraturan tidak boleh digugat, harus diterima apa adanya. Agama, Norma susila, adat istiadat dan hukum negara sebagai sistem pengetahuan yang mapan harus ditaati apa adanya tanpa boleh mempertanyakan kemapanannya. Yang beroperasi dengan mekanisme pengontrolan terhadap tubuh dengan sistem tanda. Individu yang beripikir berbeda dan cerewet menggugat otoritas akan ditandai sebagai manusia yang menyimpang. Dan itu didakwa bersalah atau berdosa

Kontrol yang dilakukan oleh sistem pengetahuan yang memegang kendali otoritas dilaksanakan dengan cara-cara kaum behavioris; yakni dengan sistem reinforcment yang beroperasi dengan mekanisme reward dan punish. Misalnya; dalam kehidupan beragama, orang yang sholat didimingi-imingi nikmat kehidupan surgawi dan yang tidak sholat diancam dengan panasnya api neraka. Sama halnya dalam dunia pendidikan yang menghargai otak manusia dengan bilangan (angka). Orang akan dinggap pinter jika angkanya bagus, sebaliknya jika angkanya jelek maka berarti dia bodoh. Walaupun sebenarnya hal itu tidaklah terbukti kebenarannya. Mekanisme tersebut menjadikan telah menciptakan manusia-manusia yang berkarakter kompensatif. Manusia melakukan apa yang dilakukan bukan atas kesadarannya sendiri sebagai manusia yang bereksistensi. Manusia tak lagi memiliki kuasa atas tubuhnya sendiri.

Terenggutnya kuasa atas tubuh sendiri meniscayakan manusia teralienasi dari tubuhnya sendiri. Manusia terasing dari kehidupan yang sesungunhnya. Fakta bahwa  eksistensinya sebagai manusia telah terbunuh oleh sistem yang mapan. Manusia tidak tahu lagi bagaimana harus memfungsikan diri sebagai individu sebagai perwujudan eksistensisnya. Status quo tubuh sosial  merepresi ide, mengurung ide dalam lingkaran hegemoni dengan tekhnologi penyeragaman (pendisiplinan) pola perlaku dan pola pikir. Dalam analisis Foucault pendisiplinan atau penyeragaman dilakukan dengan tekhnik :

  1. Pengawasan Hirarkis, yakni pendisiplin dengan melakukan kontrol pada tubuh yang dilaksanakan berdasarkan hukum optik  dan hukum mekanis, sesuai dengan seluruh peran ruang, garis, tingkat dan tanpa akibat buruk dari paksaan atau kekejaman.
  2. Normalisasi, yakni dengan pembingkaian atauran-aturan normatif penguasaan terhadap tubuh dilakukan dengan penyelarasan dalam konfigurasi alami, merekayasa secara sistemik aturan-aturan seakan-akan sebagai bentuk kodrat yang harus diterima secara alami oleh tubuh.
  3. Pengujian, yaitu penguasaan yang memasukkan individu kedalam wilayah dokumentasi, yang dengan segala tekhnik dokumentasinya individu dikuasai dengan prosedur-prosedur yang dibuat secara sepihak oleh pemilik tekhnologi kuasa (menjadikan individu sebagai suatu kasus).

 Tekhnologi penguasaan tubuh yang sitematik mampu menciptakan robot-robot yang bahan mentahnya adalah manusia, yang diprogram untuk teratur dan seragam sesuai kehendak otoritas. Kesadaran manusia tentang eksistensinya pun terseduksi dalam ruang gelap tanpa setitik pun cahaya untuk melihat kebenaran yang sesungguhnya. Manusia tak lagi memiliki kesadaran kritis terhadap realitas yang diahadapi. Dalam konsepsi Freire kesadaran manusia terbelah menjadi tiga yaitu; kesadaran magis, kesadan naif dan kesadaran kritis.

Pertama, kesadaran magis merupakakan kesadaran yang menempatkan relitas tubuh disandarkan pada kekutan yang berada diluar tubuh manusia baik yang bersifat natural maupun supranatural . Semisal kebodohan yang dialami diasumsikan sebagai faktor hereditas atau  takdir yang harus diterima apa adanya. Tubuh “dipaksa’ secara lunak untuk menerima kebodohannya sebagai kondisi yang disebabkan dia bukan berasal dari keturunan yan unggul. Atau tubuh diharuskan untuk percaya bahwa kebodohan itu adalah taqdir yang harus diterima tanpa syarat sebgai bentuk keyakinan kepada Sang Maha Kuasa.

Kedua, kesadaran naif, yaitu penempatan kesadaran tubuh dengan pemaksaan sistemik untuk melanggengkan status quo yang mapan. Bahwa kebodohan bukanlah akibat dari keberadaan sebuah sistem sosial (pendidikan), tapi tidak lain adalah kesalahan individunya sendiri yang tidak memiliki N’Ach (dorongan berprestasi) yang tinggi atau malas. Jika individu tidak ingin terjerembab dalam kubangan kebodohan maka ia harus menyingkirkan sifat malas dan harus memiliki N’ach yang tinggi.

Ketiga, kesadaran kritis. Pada struktur kesadaran ini manusia mulai mempertanyakan struktur sistem tubuh sosial. Individu mampu membuka ruang untuk mengidentifikasi struktur dan sistem dalam tubuh sosial sebagai sebab dari akibat kebodohannya. Bahwa terjadi ketidak adilan dalam mekanisme regulasi dalam struktur dan sistem sosial. Dengan kesadaran kritis ini individu dapat menunjukkan eksistensinya dengan melakukan ggugatan-gugatan terhadap ketimpangan-ketimpangan yang dibingkai dengan keteaturan dan keseragaman.

Dengan terbukanya ruang kritisisme dalam kesadaran tubuhnya manusia telah menemukan kembali kehidupannya yang telah dirampas oleh mesin-mesin kuasa yang telah menundukkan tubuhnya. Manusia mampu memanifestasikan eksistensinya sebagai manusia yang utuh layaknya ketika ia dilahirkan dan mengawali kehidupan dimuka bumi. Yang selalu bersuara untuk bertanya dan mempertanyakan tentang segala hal berkenaan dengan kehidupannya sebagai homo sapien. Otoritas yang mapan dengan tekhnologi kuasanya akan selalu mengintai dan takkan pernah rela kuasa diruntuhkan. “Awas, hati-hatilah dengan segala sesuatu yang bersifat mutlak” sabda Zahustra (Nitsczhe). Karena jika tidak kau akan jadi pecundang.  

* Didiskusikan pada acara MAPABA PMII Rayon Psikologi “Al-Adawiyah” Komisariat Sunan Ampel Malang pada tanggal  08 Oktober 2004 di Vihara Dharma Mitra Malang.

TIDAK SEKEDAR PERAYAAN SIMBOL

Entah tanggal berapa, tapi yang pasti peristiwa itu terjadi di rayon Al-Adawiyah ketika masih bermarkas di Sunan Drajat-Sumber Sari. Aku dan sahabat Ramli –yang  kemudian menjadi presma BEMF-Psikologi 2003/2004– “pulang” untuk memberikan klarifikasi tentang pemberitaan terkait dengan pemilihan rektor yang masih dimenangkan oleh Iman Suprayogo. Berita itu adalah hasil liputan sahabat Ramli sebagai seorang jurnalis mahasiswa. Terjadi perdebatan sengit dengan berberapa sahabat yang kukuh dengan perspektifnya masing-masing. Ditengah adu argumentasi yang semakin mamanas, seorang sahabat menuding kami –yang  juga kader PMII– telah   mencoreng nama baik PMII karena pemberitaan itu. Bahkan sang penuding mengarahkan dengan gagah tinjunya ke wajahku dan menunjukkan dirinya sebagai (seperti) seorang “pembela” organisasi yang militan.

Selang beberapa tahun kemudian, saya dan beberapa sahabat –waktu itu  sering disebut para “veteran” oleh beberapa sahabat yang lain– mendiami kontrakan bersama di Simpang Gajayana. Suatu ketika sahabat Mastur berbagi cerita gundah tentang seorang sahabat yang telah “menggagahinya”. Dengan sangat percaya diri sahabat itu memamerkan bendera PMII yang melekat erat di dinding kamarnya. Tanpa tedeng aling-aling sahabat itu berseloroh jika dirinya telah melakukan banyak bakti untuk PMII yang menurutnya melebihi siapapun di masa itu. Dalam ungkapan sahabat Mastur, sahabat itu merasa “paling” PMII diantara kami dan sahabat-sahabat lainnya.

Dua episode diantara hamparan kisah yang saya lalui sepanjang saya menjadi kader PMII rayon Al-Adawiyah, Komisariat Sunan Ampel Malang. Episode yang memberikan pelajaran kepada saya sebagai kader PMII. Ber-PMII bukanlah sekedar menjunjung dengan puja kemegahan simbol-simbol harfiah organisasi tanpa memahami dan menginternalisasi dengan baik Nilai Dasar Pergerakan sekaligus Paradigma Pergerakan yang menjadi ruh PMII itu sendiri. Menjadikannya nafas hidup, bagian dari tubuh, cara berpikir dan bergerak dalam praktek kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Kapan pun dan di mana pun. Saat masih mahasiswa atau pasca mahasiswa dan bahkan (jika perlu) di kehidupan selanjutnya.

Pemujaan terhadap simbol harfiah organisasi kerapkali membidani lahirnya sikap arogan tidak hanya terhadap organisasi lain, tetapi juga terhadap sesama kader dalam organisasi itu sendiri. Secara pribadi, boleh saja (bahkan disarankan) kita memiliki bendera, jaket, kaos, stiker, gantunggan kunci, dan lain sebagainya yang dilekati oleh simbol organisasi sebagai representasi rasa memiliki dan kebanggaan terhadap organisasi. Namun menjadikan simbol organisasi hanya untuk pamer atau gagah-gagahan tidak jarang membuat kita terpeleset pada keangkuhan. Keangkuhan yang tidak memiliki kontribusi bahkan nilai apapun bagi organisasi.     

Tidak jarang juga keterjebakan dalam kemegahan simbol-simbol harfiah hanya akan menjadikannya payung untuk bernaung dan berlindung. Jika tempat bernaung dan berlindung itu tidak lagi membuat nyaman konsekuensinya kita akan merasa tidak dipedulikan oleh organisasi sehingga sekonyong-konyong tidak mau ambil pusing, acuh nan cuek, bahkan terinveksi virus “melupa” pada organisasi berserta persoalan-persoalan yang diidapnya. Apabila ketidaknyamanan tersebut mencapai titik maksimum akan membuat kita pergi dan bahkan menyerang dengan membabi buta organisasi. Mungkin kita akan berdalih kalau kita bukan tidak senang pada organisasi melainkan pada orang-orang yang ada di dalamnya. Kita menjadi lupa jika organisasi tidak akan pernah eksis tanpa orang-orang yang berada (terutama) dalam struktur keorganisasian.

TelusuR

Hari selasa, tanggal 30 Desember 2008 jam delapan pagi, aku tersentak dari mimpi kosongku. Kulihat temanku masih terlelap nikmat diatas hamparan sajadah. Kuberdiri dan dengan spontan dan menoleh kearah jendela, tanpa sengaja sorot mataku singgah pada sesosok perempuan separuh baya yang sedang mencuci pakaian dengan hanya memakai sewek. Sesaat pandanganku tertahan oleh pikiran nakalku, wah seandainya dia perempuan dengan bertitel gadis, mungkin aku akan lebih lama menikmati pemandangan dengan “nilai seni” yang tak tenilai. Ah dasar laki-laki, yang hanya mencitrakan perempuan sebagai “barang seni” dimana setiap detil tubuhnya layak dinikmati dengan cara padang dunia laki-laki. Cara pandang yang selalu menempatkan perempuan sebagai objek “fetis” dalam imperium laki-laki.
Hari itu merupakan satu rangkaian perjalanan dengan tujuan lamongan-Jombang-Malang. Mampir di Gresik-tepatnya di desa Banyu Tengah- untuk sekedar melihat dan mendengar cerita bahagia penganten baru. Mereka adalah sahabat-sahabatku ketika masih berada di padepokan dengan naungan “pohon ilmu” yang tak pernah tumbuh subur. Perguran tinggi Islam yang dulu hanya berupa deretan bangunan sederhana. Saking sederhananya, sempat temanku yang menimba ilmu di perguruan tinggi lain menjuluki “SD Impres”. Tapi, kini SD impres itu lebur tak berbekas digantikan oleh kemegahan layaknya apartemen mewah, gagah tegak berdiri seperti ingin memperlihatkan jumawanya. Perubahan ruang fisik yang berimbas berubahnya ruang tradisi.
Saat masih seperti SD impress kampusku layaknya sebuah “kampung” akademika, dihuni oleh keluarga besar yang menjunjung nilai-nilai kebersamaan. Mudah ditemui di sudut-sudut kampus, mahasiswa berkumpul dan bercengkrama bersama mebincangkan berbagai topic, mulai dari topic yang paling remeh temeh sapai topic yang paling serius. Dari pagi sampai malam, kampus seakan tidak pernah sepi dari beragam aktifitas mahasiswa selayaknya kampung akademika.
Matahari terus berputar pada porosnya. Malam pun merayap menghapiri kami yang sedang asyik ngobrol panjang lebar, sesekali diringi tawa lepas. Masih banyak hal yang sebenarnya ingin diperbincangkan. Tapi, aku harus tahu diri. Aku tidak boleh pulang terlalu malam. Satu sisi aku tidak ingin kemaleman dijalan. Disisi yang lain, aku tidak ingin mengganggu indahnya suasana malam penganten baru.
Akhirnya, kami pamit pulang. Di sepanjang jalan aku melihat banyak warung kopi yang tidak lelah menunggu pengunjungnya. Gendut berkisah “disini, ngopi ke warung kopi sudah menjadi tradisi yang turun menurun”. “O iya?” tanyaku menelisik. “Lha, saking lekatnya tradisi ngopi, temanku saja yang sekarang berada diluar kota, kalo dia nelpon, yang tidak pernah ia lupakan adalah kebisaaan ‘ngopinya’ saat masih tinggal disini. Bahkan kalau dia pulang, yang pertama dikunjungi adalah warung kopi “ceritanya.
Dalan pikiranku terbersit bagaimana suasana di warung kopi. Warung kopi bukanlah “warung bisa” tetapi telah menjelma menjadi salah satu pusat informasi dan komunikasi masyarakat dalam budaya tertentu. Di warung kopi, orang boleh ngomong apapun tanpa dibatas; mulai dari gosip murahan sampai tema-tema yang bersifat ilmiah. Di warung kopi orang dengan enjoy ngobrol tentang jeritan petani akan langkanya pupuk, naik-turunnya harga BBM dikaitkan dengan ajang kontestasi politik, nelayan yang tidak bisa melaut karena cuaca yang tidak mendukung, bahkan fenomena terpilihnya Obama sebagai presiden Amerika Serikat pun tidak luput dari pembicaran. Warung kopi pun menjadi mimbar bebas bagi siapapun, dari kalangan manapun tanpa pandang bulu. Warung kopi juga menjadi tempat negoisasi politik bagi para pelaku politik, tempat lalu lalang aspirasi masyarakat yang tidak tertampung digedung-gedung wakil rakyat dan pemerintahan. Tak lupa juga, warung kopi menjadi tempat kencan bagi muda-mudi yang lagi kasmaran.
Sepeda motor kami terus melaju menyusuri jalan beraspal. Kadang kami melewati jalanan yang dikanan-kirinya dijejali rumah-rumah, tidak jarang juga jalanan yang kami lalui gelap gulita karena dikanan-kirinya penuh dengan hutan yang (sepertinya) belum masuk rencana alih fungsi. Tidak seberapa jauh sepeda motor kami melaju, Gendut mengingatkan “ Pik, jangan lupa jalan arah pulang dingat-ingat, karena bisanya kalau bepergian aku sering nyasar”. “Oke Dut” jawabku enteng, seakan hafal jalanan yang kami susuri. “ awas lho ya!” Gendut mewanti-wanti. Di perjalanan, kadang kami ngobrol sekenanya menantang kerasnya auman suara knalpot dan deru angin malam, tapi tidak jarang pula kami meyisir malam dengan kebisuan masing-masing.
Setelah kurang lebih empat puluh lima menit, jalan yang kami tempuh terasa amat jauh, tapi anehnya kami belum juga masuk territorial kota lamongan. Perasaan kami tidak enak, sepertinya jalan yang sedang kami lalui sudah berbeda dengan jalan yang kami lewati saat kami berangkat ke Gresik tadi. Jalanan terasa begitu sepi dan sepertinya tidak berujung. Sadar kami sudah jauh kesasar Gendut membuka pembicaan dengan nada sedikit menyesal “Pik…pik, jelas kita sudah kesasar!”. “iya ta?” responku datar. “Kamu sih…, dari awal aku kan sudah ngomong untuk mengingat-ingat jalan yang kita tempuh tadi” gerutu Gendut. Dengan sedikit serius aku malah berceramah “makanya, jangan memberikan kepercayaan kepada orang yang tidak tahu peta, meskipun dia adalah sahabat yang kamu paling percaya sekalipun, pasti kacau hasilnya”. “Kamu gak ngomong kalau ternyata kamu tidak bisa dipercaya” seloroh Gendut dengan nada goyonnya yang khas.
Agar kami tidak terlalu jauh kesasarnya, Gendut kemudian berinisiatif menghubungi temannya via HP. Aku melihat dan mendengar Gendut dengan serius meminta petunjuk kearah mana seharusnya jalan yang akan kami lalui. Setelah selesai nelpon akhirnya kami melanjutkan perjalanan sesuai dengan petunjuk dari suara HP. HP kini sudah menjadi kebutuhan tersendiri bagi masyarakat di era tekhnologi informasi. Dengan HP, meski tidak selalu menyelesaikan masalah dengan tuntas, paling tidak masalah kami yang kesasar sedikit dipermudah. Tapi, kami sadar bahwa HP bukanlah solusi bagi masalah yang sedang kami hadapi. Kami haruslah tetap mengandalkan diri sendiri untuk mencari sendiri arah jalan pulang. Sebenarnya kami bisa bertanya pada orang lain disepanjang perjalanan. Namun, kami punya pendapat lain “ tidak ada salahnya mencoba kemampuan ‘kompas’ yang ada dalam diri kami sendiri”. Tapi akhirnya pun kami mengandalkan petunjuk arah lalu lintas yang dipasang di setiap persimpangan jalan.
Setelah berkilo-kilo kami menelusur jalan pinggiran kota Gresik, jalanan yang kami lewati tiba-tiba lebih ramai dari ssebelumnya. Kendaran yang melintas lalulintas bertambah sesak. Di sisi kanan-kiri jalan kami lihat banyak pertokoan dan warung-warung kaki lima yang berjejer menunjukkan kerukunan yang timpang. Agak jauh, aku melihat bangunan yang cukup besar, terang-benderang, banyak kendaraan diparkir, dan yang jelas banyak orang lalu lalang keluar masuk. Diatas-depan bangunan tersebut tertulis RAMAYANA.
“Ahaaa, sekarang aku tahu arah jalan pulang Pik” ujar gendut dengan dengan pedenya. “iya ta?” jawabku dengan pasrah. Tepat di persimpangan kota, kami mulai kebingungan lagi. Kami berbalik arah mengikuti arah panah yang ditunjukkan oleh papan petujnjuk arah lalulintas. Kendaraan kami pun menepi, kebetulan di pojok persimpangan ada warung kopi. “ Ngopi aja dulu Pik, sekalian kita nanya pada orang arah pulang kemana” pinta gendut dengan nada ragu. “Boleh ” sambutku dengan ramah. Sambil menunggu kopi yang kami pesan, kami membaca koran yang berserakan di meja warung.

JANJI ITU

“Berjanjilah tiga hal padaku” demikian pintamu waktu itu dan aku hanya bisa mengiyakannya.  Kini, sudah empat tahun lebih janji itu terlewatkan begitu saja. Janji itu hanya menjadi bayang-bayang dalam setiap langkahku yang menjuntai gelap. Alibiku, janji itu mungkin hanya sebentuk reaksi emosional atas peristiwa yang kita alami sebelumnya. Peristiwa yang secara tiba-tiba membelokkan arah perjalananku yang cukup panjang. Peristiwa yang menggeser titik ordinat garis takdirku. Peristiwa yang memberiku momentum untuk melakukan transvaluasi  atas beragam (andaian) harapan yang sebelumnya kujanjikan pada diriku sendiri.

Kini, kita masih terjalin dalam hubungan (tapi) yang berjarak. Mungkin karena kita masih hidup diatas bumi yang sama tapi disisi yang berbeda. Walaupun hal itu bukanlah alasan yang tepat untuk mengurai berai rajutan yang pernah kita sulam bersama. Rajutan yang sempat memberikan janji manis tentang indahnya masa depan. Janji manis yang dikubur oleh waktu seperti halnya mimpi-mimpi yang dihapus oleh pagi. Sudah menjadi sifat mimpi yang tidak mampu bertahan sepanjang waktu. Walaupun sang mimpi memiliki iramanya sendiri dalam mengaransemen kehidupan.

Aku dan kamu adalah manusia biasa yang selalu mencoba untuk menjadi manusia bijak. Tapi menjadi manusia bijak bukanlah perkara mudah yang selalu berakhir dengan kebaikan. Terkadang, untuk menjadi bijak kita harus susah payah “membohongi” dengan mempermak wajah dan kata supaya tercitrakan “baik”. Mungkin ada benarnya juga jika berbohong untuk kebaikan menjadi satu-satunya alasan yang tepat untuk menampilkan diri sebagi manusia bijak. Tapi bagaimanapun kebohongan akan selalu menyisakan penyesalan yang melukai nurani. Luka yang sewaktu-waktu kambuh dan hanya mengingatkan tubuh ini pada rasa sakit.

Maaf! Haruskan aku minta maaf? Layakkah aku minta maaf? Jika aku minta maaf akankah menunjukkan bahwa aku manusia baik? manusia baik yang memiliki keberanian untuk menyatakan kejujuran. Jujur kalau selama ini aku berbohong untuk sekedar mendapatkan sebuah senyuman sebagai penanda betapa baiknya aku dalam pandangan. Jika pun bukan senyuman yang aku dapat, setidaknya aku  akan dikenang sebagai orang yang tidak sebaik dalam bayanganmu. Aku sebagai orang baik hanyalah dimensi imajinatif kita sebagai manusia yang hidup ditengah-tengah lingkungan yang terobsesi untuk dilihat sebagai baik. Yang demi itu, kita rela menghakimi yang lain sebagai ketidakbaikan dan harus diekslusi dan bahkan dinegasikan. Tidak terkecuali cita-cita baik pun harus dikubur demi sebuah kebaikan umum yang berlaku.

Memang, hidup ini terlalu rumit untuk direnungkan dan terlalu sederhana untuk dijalani. Kita tidak perlu bersusah-susah mengoptimalkan fungsi kepala untuk sekedar menjalani hidup. Yang diperlukan hanyalah lutut yang kuat untuk terus tegak berdiri, melangkah, dan berlari mengikuti ritme nasib yang telah dirancang oleh tangan-tangan tak terlihat. Upaya yang dilakukan tidak lebih sebagai manivestasi insting bertahan hidup dan hebatnya hal itu pun didaulat sebagai kesuksesan. Sedangkan kepala yang digadang-gadang sebagai pengendali tubuh hanya digunakan untuk mempermudah pencapaian definisi kesuksesan yang telah ditetapkan sebelumnya. Ada batas gerak kepala yang tidak boleh dilanggar, karena jika memaksakan diri melewati batas maka konsekuensinya adalah menjadi tersisih. Jangan coba-coba merenung tentang kehidupan sebab hal itu berarti menyeret diri dalam gelapnya penderitaan.

MENTAL BUDAK

Dalam sebuah film Mandarin berjudul “The Promise”, seorang budak ditinggal mati oleh tuannya. Si budak menagis tersedu, meratapi kematian tuannya. Datanglah seorang Jendral perang, kemudian bertanya penuh wibawa ” kenapa kau menangisinya?”. Sambil menunjuk tuannya, si budak menjawab ” tuanku telah mati, dia meninggalkan aku sendirian”. ” Bukankah dengan kematian dia kamu beruntung, kamu bisa bebas tanpa harus tunduk pada siapapun?” sang jendral menimpali penuh telisik. Dengan suara parau si budak menjelaskan ” Bukan bebas atau tidak yang ku persoalkan, akan tetapi siapa yang akan memberiku makan setelah tuanku tidak ada lagi”. Seolah ingin menunjukkan kebaikannya, sang jendral berkata ” Mulai saat ini jadilah budakku, ikutlah denganku, aku yang akan memberimu makan”.” Baiklah tuan, mulai sekarang tuanlah tuanku, kemanapun tuan pergi aku akan ikut, apapun yang tuan perintahkan aku akan tunduk”. Akhirnya, dengan berjalan kaki dan seringkali berlari mengikuti sang Jendral yang dengan gagah diatas kuda tunggangannya.

Sang Budak dalam cerita tersebut, dengan jelas menunjukkan bagaimana seorang manusia yang memiliki mental budak. Seperti halnya manusia yang lain, si budak juga memerlukan makan. Apapun akan dilakukan dengan menyerahkan diri sepenuhnya, penyerahan total tubuhnya kepada siapapun yang mau menjadi tuannya. Penyerahan diri yang hanya dilandasi satu tujuan, yakni pemenuhan kebutuhan paling mendasar sebagai manusia, kebutuhan akan makan. Bahkan si budak tidak berani membayangkan kebebasannya sendiri, tidak pernah berkeinginan sama sekali untuk menjadi tuan bagi dirinya sendiri. Yang penting dapat makan dari tuannya.

Di kehidupan nyata, diamana kita ditakdirkan hidup di era konsumerisme, uang menjadi tujuan hidup paling mendasar bagai sebagian besar umat manusia. Jangankan hanya makan, apapun dapat terpenuhi dengan uang. Bahkan kekuasaan yang dalam rentangan sejarah umat manusia diperebutkan dapat dibeli dengan uang. Tenaga, pikiran dan waktu hampir seluruhnya dikerahkan untuk menumpuk uang sebanyak-banyaknya. Hidup kemudian lebih banyak dihabiskan hanya untuk menumpuk uang. Dengan demikian apa bedanya dengan sibudak dalam kisah tersebut? Sepertinya mentalitas budak sudah menjadi sifat manusia yang tidak dengan mudah untuk dihilangkan. Bahkan tidak ada keberanian meski sekedar membayangkan untuk menjadi tuan bagi diri sendiri.

MANUSIA AMBANG BATAS

….Kita adalah dongeng yang terperangkap dalam khayalannya sendiri. Kita adalah apa yang terus berjalan tanpa pernah tiba pada pengertian…” (Jostein Gaarder)

Akumulasi kekecewaan terhadap diri sendiri yang berujung pada kegelisahan. Gelisah, karena Aku hanya manusia lamunan yang terjebak oleh ektase imajinasi yang hampir mati. Aku terfragmentasi oleh investasi tanpa manifestasi. Lamat-lamat kurasakan bahaya laten kehidupan; tidak ada kreativitas apalagi produktifitas. Aku merasa berada pada titik nol dalam kordinat kehidupan.

Arogansi kehidupan telah merenggutku tanpa perlawanan apapun. Bukannya aku tidak berdaya, tapi aku khilangan energi, kehilangan gairah, tidak mampu berkata “IYA” pada hidup. Kadang, aku hanya berteriak dengan mulut terbungkam. Kadang pula, kutenggelamkan diri dalam pekatnya lumpur kehidupan yang senantiasa menggodaku dengan kebohongan-kebohongan yang aku tahu sebelumnya.

Suatu waktu, seorang sahabat yang sekian lama tidak berjumpa datang mengunjungiku. Layaknya malaikat Jibril yang datang menyampaikan wahyu, dia berkata “ Shobat, jika kau percaya akan keberadaan Tuhan, yakinlah bahwa Tuhan hanya “mengusahakan”, manusialah yang “menentukan” dalam panggung kehidupan “. Bagai dicubit gadis pujaan, aku terperanjat, pikiranku melayang seperti kapas putih penuh noda dihempas angin sepoi. Kemudian mecari landasan untuk berpijak, ranting-rannting pepohanan yang biasanya nyaman tuk sekedar hinggap kulihat sangat rapuh. Saking rapuhnya, dihinggapi kupu-kupu saja akan patah.

Seperti orang mabuk, berjalan sempoyongan mencari serpihan-serpihan hasrat dalam “ketidaksadaran”. Samar-samar aku menyaksikan; hasrat, gairah, energi hidupku tidur pulas. Aku telah melewatkan hidup yang begitu singkat. Bahkan, aku mangabaikan waktu yang terus mengajakku berlalu, sampai-sampai aku lupa jika hari terus berganti. Sepintas aku teringat lantunan yang disenandungkan oleh Dream Theater “ …Live is too short”. “ The here and the now”.

Dengan sisa tenaga yang kupunya, aku berteriak sekeras-kerasnya untuk membangunkanku, bangun dari mimpi tidurku, bangun dari dongeng anganku. Dengan sedikit narcis, aku mencoba bercermin, memandangi diri. Terlintas dibenakku, sesosok gadis yang menjadi satu-satunya impian dalam hidupku. Ia yang tidak pernah lelah untuk menyemangatiku melawan kerasnya hidup-yang tak pernah mau berkompromi. Katanya dengan bijak “jangan pernah mau dipermainkan hidup, kitalah seharunya mampu mempermainkan hidup”. Ya, seharusnya hidup adalah milikku, bukannya aku yang menjadi milik hidup. Aku seharusnya mampu mengendalikan hidup bukannya malah aku yang dikendalikan hidup.

Hidup adalah belantara gelap, tanpa jalan yang pasti. Satu-satunya cahaya adalah keberanian untuk melangkah. Tanpa keberanian, aku hanya akan diam termangu diselimuti kegamangan yang tidak pernah bisa mengantarkanku kemanapun. Kegamangan hanya menjadi lumpur hidup yang dengan pasti akan menyeretku dalam perut buasnya tanpa ampun, tanpa ada siapapun yang mampu menolongku. Dan, keinginan akan pertolongan adalah kelemahan paling mendasar yang dimiliki manusia. Bukannya tidak butuh pertolongan, tapi diakui atau tidak, dengan ‘meminta pertolongan’ berarti menunjukkan bahwa orang lain lebih kuat, lebih mampu daripada aku yang lemah gemulai tanpa daya.